belajar mengendari mobil yohanes chandra ekajaya tak pernah ragu

Yohanes Ekajaya Chandra Belajar Mengendarai Mobil

 Belajar Mengendarai Mobil ala Yohanes Ekajaya Chandra

Pada hari Minggu sore di sebuah pelataran stadion sepak bola, Yohanes Ekajaya Chandra membawa sebuah mobil honda brio. Mobil itu berwarna putih dan cukup untuk empat-lima penumpang. Oiya, sebenarnya Ekajaya Chandra tidaklah mengendarai mobil putih tersebut. Ia hanya duduk di samping temannya yang menjadi menyetir mobil.

Agenda sore hari itu adalah mengajari Yohanes Ekajaya Chandra mengendarai mobil. Sebelumnya, Ekajaya Chandra memang tidak pernah belajar untuk mengendarai mobil, jadi sore itu adalah kali pertamanya ia belajar mengendarai mobil.

Pada saat disuruh menjajal oleh temannya, ia sangat gugup. Keringat dingin bercucuran. Ia merasa bahwa semua orang yang berada di pelataran stadion tersebut memandanginya. Ibu-ibu penjaga warung, anak muda yang sedang berpacaran, para bikers yang sedang menjajal kecepatan sepeda motornya, dan orang-orang yang sedang jogging. Yohanes Ekajaya Chandra menarik nafas yang dalam, lalu menghembuskannya pelan. Hirup lagi, dan hembuskan lagi. Ia ulangi itu hingga nerveous dan gugupnya hilang.

Yohanes Ekajaya Chandra bermasalah dengan kopling. Ia belum pernah menggunakan kendaraan berkopling. Sepeda motor pun paling mentok ya sepeda motor bebek manual. Tapi ia tak patah semangat, meskipun pada saat menginjak gas mobil sering mendadak mati dan berhenti.

belajar mengendari mobil yohanes chandra ekajaya tak pernah ragu

Setengah jam, sejam, dua jam, kini Yohanes Ekajaya Chandra mulai terbiasa dan menguasai kopling, gas, dan rem. Meskipun belum lancar, tapi mobil perlahan-lahan mulai bergerak dan melaju. Setir atau kemudi adalah bagian yang paling cepat ia kuasai. Posisi gigi hanya stagnan pada posisi satu atau gear 1.

Dalam waktu tiga jam, Yohanes Ekajaya Chandra sudah lancar mengendarai mobil. Ia berputar-putar mengelilingi stadion dan menyapa setiap orang dari dalam mobilnya. Senyumnya ia kembangkan, karena ia sedang merasa senang, ia bahagia karena akhirnya bisa mengendarai alias nyetir mobil sendiri.

Hari menjelang petang, adzan maghrib sudah berkumandang. Yohanes Ekajaya Chandra dan temannya memutuskan untuk pulang. Sebenarnya Ekajaya Chandra ingin langsung menjajal hasil latihannya di jalan. Tetapi temannya melarang. Temannya mengatakan bahwa mereka belum menikah, dan kalau harus mati di jalan karena alasannya Ekajaya Chandra yang menyetir, maka ia tidak rela. Keduanya tertawa dengan candaan tersebut. Mereka berdua bertukar posisi, dan langsung melaju pulang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *