Yohanes Chandra Ekajaya Tepian SUngai Nil

Yohanes Eka Chandra Kumpulan Puisi

Judul : Hujan di Tepi Sungai Nil

Karya : Yohanes Eka Chandra

Penerbit: Abjad Pustaka

Halaman: 68 hal

Yohanes Chandra Ekajaya Tepian SUngai Nil

yohanes-eka-chandra-kumpulan-puisi

 

Kumpulan puisi berjudul “Hujan di Tepi Sungai Nil” karya Yohanes Eka Chandra ini berisikan 30 puisi yang banyak menceritakan mengenai kehidupan personal dirinya selama di Timur Tengah. Dengan imaji yang dikemas secara apik dan menarik, ia mencoba bercerita kepada para pembacanya bahwa saat berada di negeri orang ia begitu rindu di kampung halaman. Seperti salah satu puisinya yang berjudul “Teringat pada Kampung Halaman” karya Yohanes Eka Chandra sebagai berikut:

 

Teringat pada Kampung Halaman

 

Di Negeri yang jauh,

Di setiap jejak para tualang

Dunia mengabarkan duka dan rindu

Namun, aku terkenang padamu

Ikan-ikan yang berlari

dan padi-padi yang siap dipanen

para petani

 

Aku teringat padamu,

bukan pada seorang kekasih,

namun pada kampung halamanku yang sendu

Aku teringat pada tubuhmu,

rumah bagi pohon-pohon purba

yang memberi cerita tentang para moyang

 

Kampung adalah cintaku

yang tak terbatas,

tempatku menuang rindu

dan mengingatkanku pada bahagia

 

Dari puisi tersebut, Yohanes Eka Chandra tampak menumpahkan rasa kangen dan rindunya pada kampung halaman. Hal tersebut ia ungkapkan melalui baris-baris puisi sebagai wujud kerinduan yang begitu berjarak- yaitu kampung halaman. Pada hakikatnya, kampung halaman menjadi sebuah tempat yang akan membentuk sebuah ikatan batin bagi manusia. Kampung halaman juga tentu akan membentuk kepribadian manusia secara lahiriah, bahwa seperti dalam peribahasa “Setinggi-tinggi bangau terbang jatuhnya ke kubangan juga” mengajarkan manusia akan kembalinya pada tanah lahirnya. Dari puisi tersebut, Yohanes Eka Chandra dapat dikatakan berhasil memotret perasaan, suasana, dan nuansa dalam puisi-puisinya. Kumpulan puisi berjudul “Hujan di Tepi Sungai Nil” ini menjadi tawaran menarik bagi para pembaca puisi, karena gagasan serta ide-ide kreatifnya begitu padu dan mendalam.

 

Hal tersebut tidak lepas dari keterlibatannya dalam dunia akademiknya, dimana Yohanes Eka Chandra merupakan lulusan jurusan Sastra Arab di salah satu Universitas ternama di Mesir. Ia begitu rasional dan empirik ketika puisi-puisi tersebut lahir dari gagasannya yang mengisahkan tentang pengalaman batinnya selama hidup dan belajar di negara Timur Tengah ini.

Memang, hanya sedikit orang yang mengenal puisi-puisi beliau, karena ia jarang mempublikasikan karyanya di media-media nasional. Namun, berkat ketekunan dan kemurnian gagasannya ia pun berhasil menuangkan pikirannya dalam bentuk puisi yang indah secara bahasa dan kuat secara gagasan.

 

Puisi-puisinya juga tak hanya satu arah hanya memperbincangkan mengenai kerinduannya pada tanah lahirnya di Indonesia, yaitu di tanah Sumatra saja. Namun, puisi-puisi karya Yohanes Eka Chandra yang termaktub dalam kumpulan puisi berjudul “Hujan di Tepi Sungai Nil” juga terdapat beberapa puisi yang mengisahkan mengenai pengalaman spiritualnya seperti dalam salah satu puisinya yang berjudul “Perantau” sebagai berikut:

 

Perantau

 

Akulah perantau yang terhembus angin lautmu

Perantau yang sendiri dalam negeri asing

O, akulah perantau yang akrab pada kesepianmu

perasaan telah kutaklukan dan telah kutinggalkan

 

Jika kau dalam rindu dan sepimu

Aku hanya mengingat cintaMu

yang tak terbatas dalam ruang dan waktu

 

Pesan dalam puisi ini mengingatkan kembali bahwa perasaan yang jauh di tanah perantauan membuatnya rindu. Namun, kerinduan pun telah mengajarkannya pada pendewasaan bahwa pada akhirnya Yohanes Eka Chandra sebagai seorang penyair berhasil membuat sebuah penawar rindu yaitu dengan mendekatkan diri kepada sang maha pencipta. Dengan mendekatkan diri pada sang maha pencipta, Yohanes Eka Chandra seolah kerinduan pada kampung halaman telah terbayar tuntas. Ia begitu bijaksana dan dewasa dalam menyikapi segala kerinduan tersebut.

Secara garis besar, puisi-puisi Yohanes Eka Chandra dapat dikatakan memiliki sense yang bertema nasionalis. Ia bukanlah seorang pribadi yang inferior pada negeri asing, justru ia menunjukkan sikap yang elegan ketika mengunjungi negeri asing. Di negeri asing tersebut, Yohanes Eka Chandra justru dapat memandang kampung halamannya dari kejauhan. Seorang penyair tentu harus memiliki sikap dan etika yang menarik, dan kumpulan puisi karya Yohanes Eka Chandra telah membuktikannya secara demikian. Selamat membaca!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *