Yohanes Chandra Ekajaya Dan Persatuan

Yohanes Chandra Ekajaya Imlek Bagian Indonesia

Yohanes Chandra Ekajaya pada akhir pekan kemarin berkata kepada masyarakat. Saudara-saudara kita telah merayakan Tahun Baru Imlek 2568, sekali pun sejak Reformasi digulirkan, Imlek telah menjadi hajatan bangsa yang dirayakan secara bersama-sama. Dalam catatan sejarah Indonesia, perayaan Imlek dan kebebasan berekspresi etnis Tionghoa berjalan dalam narasi yang panjang nan berliku. Meski sempat menjalin interaksi yang harmonis melalui hubungan dagang, politik dan interaksi budayasejak Masa Klasik (kerajaan-kerajaan Hindu- Budha) hingga kerajaankerajaan Islam, namun kadang masih ada “cap” yang menimbulkan diskriminasi.

 

“Politik diskriminasi” untuk “memisahkan” antara masyarakat Tionghoa dengan masyarakat “asli” Indonesia sudah terjadi sejak jaman penjajahan kolonial Belanda. Saat etnis Tionghoa menempati kasta kedua setelah golongan Eropa, yang tentu mendapatkan akses (perlakuan) spesial, baik secara ekonomi maupun sosialpolitik. Sedangkan kaum pribumi menderita di kasta paling bawah, yang secara politik tertindas dan secara ekonomi terlindas.

 

Dengan kondisi itu, secara psikologis-sosial, bagi sebagian masyarakat Indonesia, “cap” atau sentimen terhadap masyarakat Tionghoa mulai mengendap, lalu membatu. Apalagi ketika hal itu dibumbui dengan sentimen agama, yang seolah-olah menjadikan Tionghoa berseberangan dengan Islam, hinggadisebagian momen sering memuncak konfliknya dalam panggung minoritas vs mayoritas.

 

Yohanes Chandra Ekajaya Dan Persatuan

Imlek Persatuan Indonesia

 

Masalah Kesenjangan Ekonomi

 

“Cap” dan perlakuan diskriminatif yang dialami oleh sebagian masyarakat Tionghoa tentu merupakan hasil dari kesalahan penafsiran atas posisi etnis yang digeneralisasikan memihak Belanda serta dianggap pula sebagai “simbol kesenjangan” (ekonomi). Poin kesenjangan ekonomi ini menjadi penting, karena kesenjangan bertalian dengan kemiskinan dan kemiskinan melahirkan kesengsaraan. Dari sini kemudian timbulah kecemburuan sosial, sedangkan kecemburuan sosial merupakan akar yang subur bagi tumbuhnya ‘cap-cap’yang diskriminatif, sekaligus konflik sosial.

 

Kesenjangan ekonomi ini, menurut penulis, patut mendapat perhatian khusus, karena timbulnya anggapan etnis Tionghoa selalu lebih kaya dan sukses dalam berbisnis, sedangkan “pribumi” sering menjadi kaum pekerja, merupakan pola pikir yang tidak begitu saja terjadi, melainkan terbentuk karena ada beragam faktor, yang antara lain bisa saja terjadi karena:

 

Pertama, politik pemerintah yang memberikan akses khusus terhadap pebisnis Tionghoa. Hal ini mungkin saja terjadi karena adanya kesamaan pola pikir dengan penjajah Belanda dulu yang menilai Tionghoa jago bisnis, sedangkan keterkaitan antara ekonomi dan politik seringkali tak dapat dipisahkan. Rumusnya adalah apabila sudah ada akses pada kekuasaan, bisnis pun akan lebih lancar, sebaliknya, apabila sudah sukses dalam berbisnis, akses terhadap kekuasaan akan terbuka lebih lebar.

 

Pada sisi ini, harus diperhatikan persoalan “Distribusi Keadilan”, terutama dalam akses terhadap sumber daya ekonomi. Jangan sampai anggapan ekonomi/bisnis secara spesial dimonopoli. Bila persoalan ini tidak bisa teratasi, kesenjangan bisa menjadi bom waktu yang berbahaya, yang merawat potensi kecemburuan dan konflik sosial.

 

Kedua, jaringan keluarga. Masyarakat Tionghoa memiliki solidaritas yang sangat kuat dalam menjalin jejaring bisnis dengan para keluarga atau koleganya. Hal ini mungkin terkait dengan faktor kepercayaan, rasa aman serta ikatan persaudaraan.

 

Yohanes Chandra Ekajaya mengatakan bahwa sejatinya hal ini tidak salah, karena dalam bisnis, wajar saja kita memperkuat jejaring bisnis dengan orang yang dipercayai, terlebih dengan keluarga sendiri.

 

Namun, jika hal tersebut dipandang dengan kacamata yang negatif (karena merasa adanya kesenjangan dan ketidak adilan), bisa saja pendekatan bisnis tersebut dinilai sebagai cara untuk “mengusai perekonomian”.

 

Pada sisi ini, cara pandang yang cerdas dan dewasa dalam melihat dan membangun pendekatan bisnis harus lah diutamakan, agar persaingan usaha ada dalam iklim yang positif, dengan tidak memandang kesuksesan saingannya dengan pandangan yang selalu negatif, apalagi diskriminatif.

 

Ketiga, datang dari faktor internal “pribumi” sendiri, yakni adanya ketidak mampuan pada sebagian masyarakat kita dalam bersaing di dunia bisnis. Persoalan ini juga tidak berdiri sendiri, namun terkait juga dengan masalah etos kerja, tingkat pendidikan, akses dan kepemilikan modal, hingga ‘jaringan bisnis’ yang terbangun tidak begitu solid, bahkan pada kasus tertentu satu keluarga saja bisa saling bertengkar gara-gara bisnis.

 

Pada titik ini, masyarakat kita memang dituntut untuk bisa berpikir dan bertindak secara cerdas dan bijakuntuk mau dan mampu belajar dari berbagai pengalaman serta kalangan mana pun juga, termasuk dalam hal membangun etos kerja, jejaring bisnis, hingga secara dewasa mampu bersaing dengan sehat, sembari mengoptimalkan segala potensi sumber daya yang ada. Singkatnya, melihat atau evaluasi “ke dalam” mesti lah dilakukan ketimbang terus menyalahkan faktor eksternal.

 

Persatuan Bangsa dan Keterbukaan

 

Hal yang dibicarakan ini mungkin sensitif bagi sebagian kalangan, namun di sini penulis ingin mengemukakan sekelumit fakta yang masih ada pada sebagaian masyarakat kita, yang masih memasang “tembok pemisah”. Sebagai contoh, seperti yang dialami dan diceritakan oleh teman penulis sendiri, hingga saat ini masih saja ada sentimen antara “Sunda vs Jawa”, yang masih memelihara anggapan bahwa “orang Jawa tidak cocok menikah dengan orang Sunda”, atau sebaliknya. Atau cerita lain dari teman penulis yang merasakan “tantangan” dari keluarga pasangannya, gara-gara dirinya tidak satu etnis.

 

Yohanes Chandra Ekajaya Mendukung Persatuan

Persatuan dan Kesatuan Bangsa

 

Apa yang penulis kemukakan diatas merupakan sebagian fakta yang tentu saja bukan untuk digeneralisasi (disamaratakan), karena mungkin hanya terjadi dibeberapa kasus, waktu dan tempat tertentu saja. Selain itu, hal-hal di atas juga merupakan kondisi yang kental dialami dulu, meskipun dengan kadar tertentu,hal negatif itu belum seluruhnya punah dari masyarakat kita. Poin pentingnya, bermacam hal yang dapat menghalangi persatuan atau memecahbelah ke-Indonesia-an harus lah kita pelajari, waspadai dan antisipasi.

 

Dengan segala ketidak sempurnaannya, pada era reformasi ini, syukur lah kedewasaan dan kebijaksanaan bangsa kita semakin membaik. Semangat keadilan dan kemanusiaan (toleransi kebangsaan) semakin menjadi acuan. Hal ini sangat lah penting karena tanpa semangat ini, mustahil “Persatuan Indonesia” dapat terjaga atau pun terwujud nyata. dan tanpa spirit itu, kita pasti akan kesulitan untuk bisa hidup berdampingan dalam keberagaman.

 

Dengan terawatnya semangat toleransi kebangsaan yang berdasar pada nilai keadilan dan kemanusiaan ini, kita menjadi sadar bahwa tidak boleh ada monopoli mayoritas, maupun tirani minoritas! Semuanya harus kita perlakukan setara dan adil sebagai sesama warga negara, sesama manusia dan anak bangsa. Dalam konteks Indonesia sebagai negara hukum, semua warga negara harus sama kedudukannnya di hadapan hukum, sedangkan dalam konteks Indonesia sebagai Negara Kesejahteraan (welfare state),semua anak bangsa (etnis atau agama apa pun itu), berhak untuk memperoleh akses hidup yang adil dalam menggapai kesejahteraan, dan negara wajib melindungi serta mengusahakannya!

 

Untuk merawat toleransi kebangsaan Indonesia ini, sedari dini anak-anak Indonesia mesti diberikan edukasi tentang kondisi bangsa Indonesia yang bhinneka: beragam, bukan seragam! Sehingga penghormatan terhadap yang berbeda itu harus dijunjung tinggi, karena semuanya punya hak dan kewajiban yang sama sebagai putera/puteri Ibu Pertiwi.

 

Yohanes Chandra Ekajaya mengatakan bahwa pendidikan semacam ini ini semestinya tidak hanya dilakukan secara terbatas di sekolah, melainkan harus pula diinternalisasikan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Pada titik ini, generasi yang lebih tua harus bersikap dewasa, sehingga tidak memelihara “dendam sejarah”, apalagi tega mewariskannya kepada generasi penerusnya. Ini lah proses “Menjadi Indonesia” yang harus kita lalui bersama. Akhirnya, Selamat Tahun Baru Imlek 2568. Semoga ini menjadi media dan momentum untuk semakin memperlemah sekat pemisah dan mempererat tali persatuan. Tak lupa, semoga saja keberkahan, kebahagiaan dan keselamatan selalu ada bersama kita dan bangsa tercinta ini. Amiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *