Yohanes Chandra Ekajaya Mengunjungi Riau

Yohanes Chandra Ekajaya Berandai Walikota Pekanbaru

Yohanes Chandra Ekajaya berada dalam suasana hiruk pikuk Pilkada Kota Pekanbaru 2017. Dengan jumlah penduduk 1,2 juta di waktu siang dan 1,1 juta di waktu malam dan luas 632 Km2, Pekanbaru bertengger sebagai kota metropolitan dengan luas nomor 3 dan jumlah penduduk nomor 9 terbesar di Indonesia.

 

Seiring dengan itu, berbagai permasalahan mengikuti besarnya Pekanbaru. Kami membagi pemecahannya menjadi 4 bidang utama, yaitu: Bidang Infrastruktur dan Lingkungan Hidup Perencanaan dengan berbasiskan Sistem Informasi Geografis (Geographical Information System, GIS) yang menata basis data dan pemetaan menggunakan sistem komputer dilakukan, sehingga perencanaan dan pengelolaan kota bisa dilakukan secara terpadu dan komprehensif untuk infrastruktur, tata ruang, lingkungan, dan pelayanan perkotaan.

 

Semua data berbasis lokasi dipetakan dan disusun di dalam format basis data komputer, seperti jaringan jalan, gang, jaringan drainase, jaringan listrik, jaringan air bersih, semua rumah-rumah dan bangunan, termasuk jenis tutupan lahan (lahan kosong, semak belukar, kebun, dan rawa). Pendeknya, setiap jengkal Pekanbaru sudah terdata dan tergambar di dalam sistem informasi geografis ini dan updating datanya terus dilakukan pertahun. GIS ini dilakukan bersinergi dengan program smart city yang merupakan backbone-nya.

 

Yohanes Chandra Ekajaya Mengunjungi Riau

Riau The Homeland Of Melayu

 

Untuk menangani banjir, revitalisasi (normalisasi) anak-anak sungai utama seperti Kelulut, Sail, Air Hitam dan lainnya yang menuju ke Sungai Siak dan Sungai Kampar dilakukan. Di samping itu, menata drainase primer dan sekunder perkotaan dengan memastikan air lancar mengalir, tidak tersumbat, terputus, atau tertimbun.

 

Drainase di lingkungan perumahan menuju saluran perkotaan juga perlu dibenahi karena umumnya tidak lagi diurus oleh pengembang setelah selesai dibangun. Perlu disiapkan sebuah gugus tugas (task force) yang siaga pada waktu-waktu rawan banjir untuk menangani secara cepat jika terjadi penyumbatan-penyumbatan sekaligus mengetahui permasalahan di saluran. Master plan drainase disusun secara komprehensif untuk betul-betul meyakinkan air mengalir dari kawasan pemukiman, pertokoan, dan perdagangan hingga tuntas melalui saluran sampai ke sungai Siak dan Kampar dengan ukuran/daya tampung saluran yang sesuai.

 

PDAM harus serius diurus karena saat ini baru 6 persen rumah tangga yang terlayani dengan kualitas air buruk. Penggunaan sumur bor di masyarakat tidak akan bisa dipertahankan dalam jangka panjang karena kualitas air sumur bor semakin lama akan semakin buruk seiring dengan semakin padatnya kota dan pencemaran air tanah akibat pembuangan limbah rumah tangga yang tidak tertata. Investasi besar harus dicurahkan untuk peningkatan kapasitas layanan PDAM ini.

 

Yohanes Chandra Ekajaya juga mengatakan bahwa pengelolaan sampah tidak akan diserahkan kepada swasta. Jalan-jalan utama, pasar, terminal, dan pusat perdagangan/ perkantoran utama akan dilayani oleh Dinas Kebersihan. Sementara kawasan pemukiman akan dikelola oleh kecamatan dan kelurahan. Mekanisasi pengangkutan sampah dengan menggunakan tong sampah portabel yang bisa dituangkan ke dalam truk secara mekanis akan dilakukan untuk mempercepat pengangkutan.

 

Kesejahteraan buruh pengangkut sampah harus dijamin dengan upah di atas UMK mengingat kerja mereka yang berat. Masyarakat diajarkan untuk mengelola sampah dengan 3R (reduce, reuse, recycle) dan membiasakan diri memasukkan sampah ke dalam kantong plastik besar sebelum dimasukkan ke tong sampah.

 

Hal ini untuk menghindari berseraknya sampah dan dihinggapi lalat penyebar penyakit. TPA harus dikelola dengan metode sanitary landfill di mana sampah ditutup dengan tanah timbun untuk setiap lapisnya sehingga menghindari bau, lalat, dan penyakit yang ditimbulkannya.

 

Taman dan ruang terbuka hijau (RTH) publik masih sangat kurang di Pekanbaru. Tanah-tanah kosong di tempat-tempat strategis di pinggir jalan utama, maupun di tengah-tengah pemukiman akan di beli oleh Pemko, minimal 2 Ha pertahun, dan akan dibangun taman setiap tahun secara bertahap.

 

Tanah fasilitas umum untuk taman yang sudah tersedia di kompleks perumahan yang ada akan dibangun sebagai RTH dan taman bermain anak. Penanaman pohon di pinggir jalan utama yang gersang terus dilakukan seperti di Jalan Tuanku Tambusai, Jalan Riau, dan Jalan Soebrantas.

 

Jalur pedestrian (trotoar pejalan kaki) yang telah ada sepanjang Jalan Sudirman, Diponegoro, Pattimura, Arifin Achmad, Gajahmada, dan seputar Kantor Gubernur akan dirawat dengan konsisten, lubangnya ditutup, dibebaskan dari pedagang, dibebaskan dari pot bunga besar penghalang pejalan kaki, dan dibebaskan dari parkir di atas trotoar. Areal parkir dan gedung parkir di pusat kota akan disediakan. Dengan demikian kawasan pusat kota ini menjadi lokasi pejalan kaki yang nyaman dan pergerakan kendaraan bermotor menjadi minim.

 

Pohon-pohon peneduh ditanam dan canopy dibangun di sepanjang trotoar sehingga memanjakan pejalan kaki. Pada Jalan Tuanku Tambusai, Soebrantas, Riau, Soekarno Hatta, dan SM Amin, areal antara tepi jalan (drainase) dan ruko selama ini menimbulkan kesan semrawut kota karena becek, semak, sampah, lobang, tiang reklame, dan warung-warung tak beraturan berdiri di atasnya.

 

Areal ini akan diratakan, dipaving, paritnya di-cover beton, ditanami pohon, dan ditata untuk areal parkir, pejalan kaki, dan sebagian untuk PKL sehingga kota akan rapi dan aktivitas perdagangan serta PKL akan hidup.

 

Yohanes Chandra Ekajaya Belajar Peta Riau

Peta Provinsi Riau

 

Jalan dan persimpangan akan dilebarkan untuk memperlancar arus lalu lintas. Hirarki jalan arteri, kolektor, dan lokal diatur sehingga lalu lintas terdistribusi dan tidak menumpuk pada beberapa ruas jalan saja, sementara jalan lainnya sepi. Jalan-jalan paralel dan alternatif yang menghubungkan jalan-jalan utama diperlebar dan diperbaiki untuk mencegah kemacetan dan penumpukan lalu lintas dijalan utama. Contohnya adalah Jalan Paus, Cempedak, Duyung, Rambutan, Inpres, Jalan Bhakti, Jalan Duyung-Subayang, Pahlawan Kerja, Durian-Dharma Bakti, Rajawali-Melur, Ahmad Dahlan, Jalan Teropong-Cipta Karya, Suka Karya, Bangau Sakti, Rawa Mangun-Kelapa Sawit, Bukit Barisan, Singgalang-Sepakat, Sekuntum, Patin-Kartikasari, dan jalan-jalan sejenisnya. Transportasi massal harus diatur sehingga bisa melewati jalan-jalan ini.

 

Transportasi massal diatur menurut hirarki (jenjang pelayanannya). Bus Trans Metro Pekanbaru melayani jalur jarak jauh arteri utara-selatan dan barat timur (20-30 Km) saja. Bus kota yang lebih kecil (metromini) melayani jalur kolektor (10-20 km) yang memotong melingkar jalur arteri saja. Sedangkan oplet (angkot) hanya melayani jalan lokal dalam radius 10 km saja.

 

Dengan demikian tidak akan ada rebutan penumpang antar moda angkutan umum ini. Kami akan merintis untuk persiapan jalur monorail Minas-Pandau (utara-selatan) dan Sikijangmati-Sungai Pinang (timur-barat) sehingga Pekanbaru sudah memiliki monorail ini pada tahun 2025, siapa pun wali kotanya.

 

Jika tidak dirintis dari sekarang, maka Pekanbaru akan macet pada 2030 karena ketiadaan transportasi massal yang memadai seperti yang dialami Jakarta dan Bandung pada hari ini.

 

Mengawasi penggunaan lahan (tata ruang) berdasarkan RT/RW.

 

Pembatasan pembangunan di pusat kota dan menyebarkannya ke kawasan pinggiran. Pengawasan tentang penyediaan lahan parkir bagi gedung-gedung yang akan dibangun karena berpotensi menambah kemacetan. RT, RW, dan kelurahan akan diberdayakan di dalam pengawasan ini. Lahan-lahan di belakang deretan akan diberdayakan dengan membuka akses jalan di antara ruko.

 

Bidang Ekonomi Perkotaan

 

Targetnya adalah meningkatkan perekonomian masyarakat dan pendapatan daerah Kota Pekanbaru. Pasar tradisional Cik Puan, Dupa, Simpang Arengka, Panam, dan banyak lainnya akan diremajakan dengan sanitasi yang baik dan bersih serta dilengkapi dengan taman kota dan parkir yang cukup. Perdagangan di pasar tradisional yang lancar dan berkembang akan memberikan efek peningkatan kesejahteraan langsung kepada masyarakat di tengah berkembangnya retail modern dan mall. Pedagang kaki lima (PKL) disediakan tempat yang layak dan diatur sehingga tidak semrawut dan mengganggu lalu lintas. Pengaturan jam berjualan PKL dan batas-batas lokasi yang diperbolehkan untuk berdagang dibuat.

 

UMKM dan industri rumah tangga dirangsang untuk tumbuh melalui pinjaman modal dan pembinaan mulai dari produksi, kemasan, hingga pemasaran. IJsaha yang berkaitan dengan pengelolaan makanan dan minuman dibina sehingga masyarakat memperhatikan kesehatan, kebersihan, dan terhindar dari bahan-bahan berbahaya yang akan menurunkan kualitas kesehatan masyarakat.

 

Pelayanan dan perizinan untuk perdagangan/jasa dipermudah, dipercepat dan transparan. Sektor perdagangan dan jasa yang maju pada suatu kota akan meningkatkan perekonomian perkotaan secara keseluruhan. Infrastruktur pendukung untuk industri di Tenayan digesa dengan kerja sama Pemprov, pemerintah pusat, dan swasta. Perizinan investasi akan digratiskan dan pengurusannya akan dibantu asalkan mau berinvestasi di Kawasan Industri Tenayan.

 

Pendapatan Asli Daerah (PAD) diintensifkan melalui pajak daerah, PBB dan lainnya. Pembayar pajak akan betul-betul dilayani, dipermudah dan dimanjakan. Potensi pajak Pekanbaru dari sektor perdagangan dan jasa sangat besar karena merupakan aktivitas utama perekonomian di Pekanbaru.

 

Bidang Pelayanan Umum

 

Permasalahan pendidikan di Kota Pekanbaru adalah pemerataan dan keadilan. Karena itu akan dilakukan pemerataan pendidikan (PAUD, SD, SMP dan yang sederajat) antara kawasan pinggiran dan pusat kota; antara sekolah negeri dan swasta; baik dari penyediaan fasilitas maupun tenaga pengajar.

 

Selama ini banyak sekolah-sekolah swasta yang menjerit dalam pembiayaannya, sementara yang bersekolah di sana banyak juga dari kalangan yang tidak mampu karena kalah bersaing masuk ke sekolah negeri. Beasiswa sekolah penuh kami berikan kepada masyarakat miskin saja, meliputi dana untuk seragam, perlengkapan belajar, transportasi, dan uang belanja. Motto kami adalah: “Tidak ada lagi alasan bahwa anak tidak sekolah karena tidak ada biaya orang tua menyekolahkan anaknya”.

 

Peningkatan kualitas kesehatan masyarakat dimulai dari program preventif {pencegahan) yaitu pola hidup bersih dan sehat. Rendahnya kualitas kesehatan masyarakat akan menyedot pengeluaran kesehatan pemerintah. Karena itu penyuluhan pola makan yang sehat, kampanye olahraga, dan pola hidup sehat dilakukan secara massif.

 

Pembangunan di bidang perumahan diserasikan dengan peningkatan kualitas sanitasi lingkungan, drainase, pengelolaan sampah, taman bermain dan penghijauan di lingkungan perumahan/pemukiman.

 

Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dilakukan di puskesmas dan pemerataannya ke kawasan pinggiran kota. Peningkatan pelayanan dokter spesialis yang didanai APBD dimaksimalkan sehingga masyarakat yang tidak mampu tidak perlu lagi mengeluarkan biaya mahal ke praktik dokter spesialis untuk mendapatkan layanan spesialis. Pelatihan khusus untuk tenaga kesehatan di Puskesmas diintensifkan supaya bisa melayani masyarakat dengan ramah, senyum, sapa, dan aktif menolong.

 

Bidang Sosial, Budaya, dan Politik

 

Kemiskinan dikurangi secara struktural. Masyarakat miskin dikelompokkan berdasarkan tingkat kemiskinannya, mulai yang dari betul-betul miskin, orang tua sebatang kara, janda dengan banyak anak, kepada mereka bisa diberikan bantuan tunai untuk mencukupi keperluan minimalnya. Untuk kategori miskin yang masih bisa berusaha namun tidak mencukupi, akan diberikan bimbingan, motivasi dan arahan sehingga bisa meningkatkan pendapatannya dan keluar dari garis kemiskinan untuk selamanya. Kami akan menyiapkan pendamping/ pembina masyarakat miskin dengan rasio 1 pendamping akan membina 10 keluarga miskin.

 

Selama 2 hari dalam sebulan, keluarga miskin ini akan didampingi secara penuh mulai dari memotivasi, menguruskan administrasi surat-menyurat, membantu mencarikan pekerjaan, sampai mengantar jika tidak tahu cara mengurus administrasi. Pendamping diberi target untuk bisa menjadikan keluarga binaannya keluar dari garis kemiskinan dalam waktu 2 tahun. Jika tidak ada perubahan, maka pendamping akan diberi sanksi, tetapi jika berhasil diberi reward.

 

Pembinaan kebudayaan dan organisasi Melayu sebagai payung negeri diintesifkan, baik melalui kesenian, penulisan buku, pakaian, bangunan, sampai kepada tunjuk ajar. Demikian pula halnya dengan kebudayaan dan beragam organisasi daerah Nusantara lainnya.

 

Pementasan dan pameran untuk mengapresiasi budaya Melayu dan budaya-budaya lain di Nusantara yang ada di Pekanbaru dilakukan sekali sebulan dengan difasilitasi APBD Pekanbaru dan kerja sama dengan Provinsi Riau. Hal ini mengisi kebutuhan masyarakat kota yang haus akan rekreasi dan event apresiasi seni.

 

Untuk lebih memaksimalkan pelayanan pada masyarakat, maka saya sebagai wali kota akan menyiapkan waktu tambahan sehabis subuh (05.00) sampai pukul 07.00 untuk menerima pengaduan masyarakat dan mencarikan solusinya. Menyiapkan asisten pribadi yang akan menindaklanjuti pengaduan dari masyarakat tersebut ke instansi terkait dan mengecek apakah sudah dilaksanakan sesuai dengan arah pemecahan masalahnya atau belum.

 

Di samping itu saya, Yohanes Chandra Ekajaya akan mempersiapkan diri saya sebaik-baiknya, baik fisik, mental, dan ruhani karena tugasnya sangat berat. Saya akan turun mengecek setiap kegiatan dan tidak percaya begitu saja kepada laporan kepala dinas/badan. Itulah mimpi saya andai menjadi Wali Kota Pekanbaru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *