dok.chandraekajaya

PTPN IV Menuju IPO 2018

SAAT ini kebutuhan crude palm oil (CPO) dunia terus meningkat. Pertambahan penduduk dunia dipastikan menambah ketersediaan pangan, termasuk CPO yang merupakan bahan baku berbagai produk makanan, obat-obatan dan kosmetik. Yang terakhir adalah sebagai energi alternatif, dengan sebutan energi hijau yang populer disebut sebagai bioediesel. Kampanye penggunaan biodiesel terus dilakukan oleh negera-negara Eropa dan Amerika Serikat.
Indonesia sebgai negara produsen terbesar CPO hingga kini diharapkan mampu menyuplai kebutuhan CPO dunia. Dalam acara Oilword Outlook Coference 2013, di Hamburg, Jerman diharapkan bahwa Indonesia bisa menyuplai 40-42 juta ton CPO di tahun 2020. Sementara Malaysia, yang merupakan negara runner-up produsen CPO diharapkan dapat menyuplai 23 juta ton. Adapun kebutuhan CPO dunia tahun 2020 adalah 78 juta ton.

Tahun 2020 hanya tinggal tiga tahun lagi, sementara produksi CPO Indonesaia masih belum nampak menggembirakan untuk memenuhi target kebutuhan dunia di tahun itu. Untuk hal ini, Indonesia harus bergegas dan serius melakukan berbagai upaya peningkatan produksi. Indonesia harus memanfaatkan keberadaan sektor perkebunan (sawit) yang sedang berada di atas angin. Langkah-langkah strategis harus segera dilakukan.

Adapan data tahun 2014, Indonesia mampu memproduksi CPO sebesar 32 juta ton metrik. Sebesar 21,0 juta ton metrik di ekspor ke berbagai negara. Dan dari ekspor ini, negara menerima masukan devisa sebesar 21,0 miliar dolar AS.

PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV yang merupkan salah satu perusahaan perkebunan yang mengelola tanaman sawit dan produk mentahnya, serta teh dan kakao, termasuk perusahaan perkebunan yang diperhitungkan. Selain memenuhi kebutuhan minyak sawit Sumatera Utara sebagai bahan baku minyak goreng dan sabun, juga mampu melakukan kegitan ekspor ke beberapa negara. Saat ini PTPN IV mempunyai lahan seluas 138.213,77 hektare. Sementara luas total perkebunan yang ada di Sumatera utara adalah 2.000.149,24 hektare. Luasan perkebunan PTPN IV ini tersebar di sembilan kabupaten yang ada di Sumatera Utara, yakni Deli Serdang, Serdang Bedagai, Asahan, Batubara, Simalungun, Langkat, Toba Samosir, Padang Lawas, dan Mandailing Natal.

PTPN IV sebagai perusahaan yang terus berkembang dan punya masa depan yang cerah dan menjanjikan, sudah selayaknya mengambil berbagi solusi untuk lebih memperbesar keberadaannya. Untuk hal ini, masyarakat umum sudah mengetahui PTPN IV akan segera memasuki Bursa Saham, dengan melantaikan penawaran saham perdana (initial public offering /IPO) mengikuti langkah perusaahan lain yang telah mendahuluinya.

Pada semester I tahun 2018 rencana melantaikan IPO atau yang lebih umum disebut sebagai go-public ini sadah matang. Kegiatan persiapan sudah dilakukan dengan berbagai usaha. Perbaikan ataupun penyempurnaan manajemen yang dirasa masih kurang terus dilakukan, melakukan efisiensi di berbagai bidang dan yang paling penting adalah meningatkan sumber daya manusia (SDM). Dengan prinsip Corporate Value berfrasa PRIMA, yakni Profability (mengedepankan frofit), Resposibility (bertanggungjawab terhadap stakeholder), Integrity (integritas), Make ahead (selalu terdepan), dan Accountability (terpecaya) perusahaan terus bekerja keras untuk bisa menjadi perusahaan publik terbuka. Coorporate Value sebagai nilai-nilai yang dianut oleh suatu perusahaan yang mengakar dan menjadi patokan yang dipegang oleh seluruh pekerja untuk menjalankan aktifitasnya serta internalisasi diri.

Secara umum, ada beberapa tujuan IPO antara lain: Pertama, mendapat dana murah dari hasil pembelian saham oleh para investor umum. Kedua, kinerja keuangan perusahaan akan lebih baik, yakni dengan mendapat dana murah untuk memudahkan melakukan pembayaran utang, mengetahui laporan keuangan perusahaan dengan cepat. Ketiga, potensi pertumbuhan akan lebih cepat. Keempat, meningkatkan citra perusahaan dengan berbagai sorotan media, yang sangat membantu perusahaan mengontrol kemajuannya. Hal ini tentunya berlaku cuma-cuma. Serta yang terakhir meningkatkan nilai perusahaan secara keseluruhan.

Agaknya masyarakat Sumatera Utara boleh bersenang hati menyambut mulainya PTPN IV untuk go-public. Saat ini ada 42.011 karyawan yang umumnya merupakan warga Sumatera Utara yang bekerja di PTPN IV. Sumbangsih ini tentunya tidak bisa di remehkan. Sebab beberapa PTPN yang ada di Sumatera Utara sudah susah untuk berkembang. Dengan majunya PTPN IV kelak , maka peningkatan upah kerja atau penghasilan para karyawan akan terjadi juga.

IPO dan Industri Hilir

Sesuai dengan tujuan go-public perusahaan meningkatkan nilai perusahaan, maka akan menjadi keharusan perusahaan untuk mengedepankan pertambahan produksi secara massal sebagai langkah utama. Pertambahan luas lahan untuk penanaman kelapa sawit dari usia nol harus di efektifkan, walaupun jangka usia panen masih enam atau tujuh tahun ke depan setelah penanaman. Apalagi masalah re-planting terhadap tanaman sawit tua, dimana hasilnya sudah sangat minim. Setidaknya setiap tahunnya re-planting harus berada minimal di angka 4%. Dan kalau memungkinkan PTP IV bisa melakukan upaya lebih tinggi dari angka tersebut.

Dengan menjadi perusahan yang terbuka, PTPN IV akan mendapat suntikan modal dari para investor umum lewat penjualan sahamnya. Modal inilah yang akan dipergunakan untuk merealisasikan pengembangan luas dan tanaman sawit yang menjadi primadona perusahaan. Tahun 2017 ini, PTPN IV mencanangkan peningkatan keuntungan bersih sebesar 25 persen dari tahun 2016, yang besarnya Rp 572 miliar .Hal ini bisa tercapai degan peningatan produksi tandan buah segar (TBS) dan peningkatan produksi CPO. Target produksi TBS dari 19,11 ton/hektare tahun 2016 menjadi 21,50 ton/hektare pada tahun 2017. Sedangkan produksi CPO dari 4,8 ton/hektare pada tahun 2016 menjadi 5,1 ton/hektare di tahun 2017.

Sementara keberadaan industri hilir (Palm Oil Downstream), yakni produk lanjutan dari CPO seperti margarin kualitas tinggi, cocoa butter subtitutes (CBS), super edible oil, yang merupakan produk makanan, sedangkan industri non-pangan, dapat berupa fatty acids, fatty alcohol, gliceryin alkohol, bio-plastic, bio-surfactant sampai saat ini masih jauh untuk bisa terealisasi. Mengingat selama ini, CPO Indonesia lebih banyak di ekspor dengan nilai ekspor yang sudah sangat memadai. Maka industri hilir kurang diminati oleh pengusaha kelapa sawit, mengingat belum maksimumnya utilitas (peralatan produksi) dan sumber daya manusia yang berkompeten. Untuk membangun industri hilir perlu dilakukan penelitian dan pengembangan teknologi manufaktur berkesinambungan dan bekelanjutan. Perlu inovasi dan rekayasa produk baru yang punya daya saing dari negara yang sudah memproduksinya lebih dulu. Dalam hal ini, kehadiran negara sangat dibutuhkan, sebab hal ini memerlukan dana yang cukup besar.

PTPN IV tentunya tidak berjalan di tempat sampai saat ini. Tahun 2014, keuntungan terbesar yang diterima PTPN, yakni sebesar Rp 864.411 miliar selama kurun lima tahun terakhir. Sedangkan di tahun 2015, terjadi penurunan keuntungan sebab oleh adanya isu negatif tentang produk sawit Indonesia, yang hampir di boikot tidak diterima di pasaran dunia. Penyebabnya adalah terjadinya kebakaran hutan yang memakan waktu berbulan-bulan di Sumatera. Kebakaran ini diperkirakan para pencinta lingkungan sebagai kesengajaan untuk pembukaan lahan sawit yang baru. Dan kini, tahun 2017 isi negatif ini sudah teratasi. Maka keberanian PTPN IV untuk go-public sudah pada tempatnya. (Nevatuhella)

Penulis adalah kolumnis. Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Menulis Artikel Jurnalistik N4 Award yang diselenggarakan dalam rangka HUT PTPN IV ke-21

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *