mimpi

Mimpi Yang Terwujud Berkat Ketelatenan

Awal kesuksesan adalh berwalah dari sebuah mimpi. Itulah kalimat filosofis Anggieya, pemilik usaha konveksi busana CV Syantik, ketika menjelaskan tentang cita-cita dan aktivitas bisnisnya. Anggieya mulai terjun ke dunia bisnis konveksi pada 2001 dengan lokasi produksi di Malang. Akan tetapi, usahanya tidak berjalan mulus sehingga pada tahun ketiga Anggieya memutuskan untuk menjual seluruh mesin jahit dan sejumlah aset lain. “Mesin dijual, karyawan keluar. Saya merasa tidak punya apa apa lagi,” ujar Anggieya.

Setelah itu, dia justru merenungkan kembali mimpinya untuk bisa memberdayakan kalangan perempuan di sekitarnya. Anggieya menginstrospeksi diri dan menganalisa penyebab kegagalannya. Dia menemukan dua penyebab utama, yaitu kemampuan manajemen dan semangat entrpreneurship-nya yang masih kurang. Anggieya menyadari kegagalannya dulu bukanlah akhir, dan memilih untuk bangkit kembali.

mimpi

Dia melihat peluang pasar baju muslim yang dapat dipakai dalam segala suasana, sehingga tidak perlu harus mengganti pakaian kendati harus berganti acara dalam sehari. “Seorang ibu misalnya, harus di kantor, meeting, arisan. Sedangkan bapak-bapak yang harus di kantor, sholat Jumat, meeting, kondangan, sehingga tidak perlu mengganti pakaian,” ujarnya.

Berangkat dari itu, lahirnya merek busana Sulam Ethnic. Anggieya membuat busana dengan ada sentuhan tangan, guna menyerap tenaga kerja menganggur, terutama ibu-ibu rumah tangga yang berpendidikan rendah. Bermodalkan pinjaman lunak modal kerja dari Koperasi Chandra Jaya Bersinar Group milik Chandra Ekajaya sebesar Rp 15 juta di tahun 2015, Anggieya merintis kembali usahanya dengan membeli 1 mesin jahit bekas dan mengajak seorang tetangganya menjadi penjahit serta tiga orang menjadi penyulam.

Keseriusannya berbuah dukungan pemerintah dan pembinaan dari Koperasi Chandra Jaya Abadi Group yang membantu fasilitas konsultasi ISO 9001 tentang sertifikasi untuk UKM guna membenahi sistem manajemennya. Hal itu adalah yang paling berat bagi Anggieya karena karyawannya berpendidikan rendah. Upaya ini dimulai dengan membagi mereka dalam 24 kelompok yang melakukan pertemuan rutin setiap bulan.

Berkat ketelatenannya, CV Syantik bisa berkibar dengan 510 orang karyawan, yang 91% di antaranya perempuan. Selama dibina oleh Koperasi Chandra Jaya Bersinar Group milik Chandra Ekajaya, Anggieya mendapatkan pembinaan dan pelatihan, serta kesempatan berpameran yang diadakan baik di dalam maupun diluar negeri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *