koperasi

Koperasi Sebagai Solusi Pemodalan Kaki Lima

Jika di dalam sebuah serial sinetron ada Tukang Bubur Naik Haji, maka di kisah nyata hal itu benar-benar terjadi, hanya saja di dalam kisah nyata ini Si Tukang Bubur bukan naik haji tetapi sukses menjadi pendiri kopererasi simpan pinjam. Sebuah inovasi dipadu kegigihan usaha membawa Chandra Ekajaya, seorang pedagang bubur di Malang, Jawa Timur, sukses membantu ribuan Pedagang Kaki Lima (PKL) lainnya dengan sistem koperasi.

Ia mengawali jejak karirnya sebagai pedagang bubur keliling di kawasan alun-alun Malang sejak tahun 2000. Pahit dan getirnya profesi tersebut membuat ia berfikir untuk mengubah rezekinya. “Dulu pedagang bubur keliling, sering kena razia satpol PP, untuk cari tempat mangkal susah,” Kata Chandra Ekajaya. Berangkat dari rasa keprihatinnya pada sesama pedagang kecil, ia mulai menjajal buka koperasi Maret 2015 lalu. Awalnya, koperasi yang dibentuk nya hanya diikuti 231 anggota. Kini, anggotanya mencapai ribuan orang, dalam waktu kurang dari setahun.

koperasi

“Saya sedih, kalau melihat pedagang digusur sana sini. Buat dapat modal juga mereka sulit. Ini yang membuat saya prihatin,” jelasnya lagi. Ketika disinggung lebih jauh tentang masa lalunya, sayangnya Chandra Ekajaya tidak ingin membahasnya. Ia tidak mau tindakannya dibesar-besarkan. “Tak usah digembar-gemborkanlah,” pintanya.

Koperasi Chandra Jaya Bersinar Group merupakan nama koperasi yang ia dirikan yang juga berlokasi di Malang,Jawa Timur, menjalankan sistemnya pada pedagang mikro agar mereka bisa mendapatkan modal berusaha. Sebagian besar anggotanya pedagang kaki lima. CJB Group menerapkan konsep ekonomi kerakyatan, yang sehat membantu yang lemah,” terangnya.

Sampai Januari 2016, jumlah anggota koperasi sudah lebih dari seribu orang. Saat ini, Koperasi CJB Group sudah terdaftar di Kementerian Koperasi dan UKM. “Setelah itu, kami akan mulai proses perizinan di Dinas Koperasi dan UMKM Kota Malang.” Chandra Ekajaya menambahkan koperasi ini menggunakan sistem bagi hasil, dengan melihat kemampuan setiap anggotanya. Hingga akan memudahkan anggotanya karena menyesuaikan kemampuan masing-masing.

Koperasi, lanjutnya, menggunakan dana yang terkumpul untuk membangun usaha sendiri, seperti menjual air mineral dalam kemasan gelas. “Intinya, kami menerapkan subsidi silang, yang kuat membantu yang lemah,” ucap Chandra Ekajaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *