Johanes Chandra Ekajaya

Yohanes Chandra Ekajaya – Sanksi Bodoh Merayakan Valentine

Yohanes Chandra Ekajaya – Hari Kasih Sayang Sedunia ( Valentine’s Day )

Yohanes Chandra Ekajaya kali ini akan membahas mengenai hari kasih sayang sedunia atau yang lebih dekat dikenal dengan Valentine’s Day. Pada hari kasih sayang yang lebih dekat dengan ungkapan rasa sayang yang bisa dilihat dalam bentuk coklat atau bunga ini, memang tak sekedar suatu pemberian itu saja. Namun makna yang terkandung di dalamnya juga lebih dari sekedar memberikan sesuatu ke orang yang tersayang. Jika di budaya barat yang lebih ke arah coklat, di beberapa negara ada yang menggunakan hari kasih sayang dengan berbagi kepada orang-orang miskin, donasi darah mereka untuk orang-orang miskin dan lain hal sebagainya.

Hari kasih sayang tak melulu hura-hura, berkumpul bersama dengan teman-teman merayakannya dengan nongkrong bersama atau dinner, dan lain sebagainya. Banyak kegiatan kemanusiaan yang bisa dilakukan untuk merayakan hari kasih sayang tersebut. Yang cukup membuat saya Yohanes Chandra Ekajaya terkejut pada hari kasih sayang ini adalah; mengapa banyak penentangan yang dilakukan oleh beberapa oknum yang sengaja membuat peraturan dan memberikan sanksi bagi mereka yang merayakan hari kasih sayang sedunia ini.

Johanes Chandra Ekajaya

Seperti halnya yang terjadi di Kampung Lot Kala, Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah, Aceh tersebut. Disana ada sebuah larangan bagi setiap warganya yang merayakan kegiatan-kegiatan berbau Valentine Day pada tanggal 14 Februari. Jika ketahuan mendapati merayakan makan akan diberikan sanksi adat, baik ringan atau pun berat. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Kurnia Gading, Reje Kampung Lot Kala seperti yang dilansir pada laman Tribun News Senin, 15 Februari 2016.

Reje atau Petue sendiri adalah seorang tokoh penting atau bisa dibilang sebagai Ketua Suku disana. Ia mengeluarkan sebuah maklumat yang juga telah disepakati oleh beberapa aparat kampung seperti Sarak Kopat yang meliputi RGM, (Badan Legislatif tingkat Kampung). Maklumat tersebut dikeluarkan dan disosialisasikan dengan selebaran-sebelaran yang di sebar ke penjuru kampung dan juga diumumkan langsung melalui mesjid-mesjid yang ada disana.

Alasannya yang dikeluarkan pun sangat sederhana dan terlihat bodoh, dimana Valentine’s Day adalah sebuah momentum yang tidak sesuai dengan norma dan adat kampung dan tidak menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran agama yang dianut oleh warga di dataran tinggi Gayo.

Yohanes Chandra Ekajaya mengungkapkan, hal ini sebenarnya sangatlah bodoh sekali. Jika berpikir tentang bagaimana seseorang merayakan hari Valentine, itu adalah sebuah hal yang tidak ada patokan dasarnya. Bagaimana coba merayakan valentine?

Hari kasih sayang sedunia tersebut memang tidak ada di negara Indonesia, namun bukan berarti kita tidak bisa berbagi kasih sayang kepada keluarga, teman, kekasih, atau orang yang membutuhkan. Memberikan sebuah sanksi kepada orang yang ingin berbagi kasih sayang, menurut saya Yohanes Chandra Ekajaya adalah sesuatu yang sangatlah bodoh dan tidak masuk akal. Itu sama saja dengan kita menolak berbagi, menolak hukum kasih sayang yang diberikan oleh Sang Pencipta. Bagaimana menurut kalian? Adakah hal yang lebih baik untuk diucapkan?