Chandra Ekajaya Pasang Lampion

Chandra Ekajaya Kuatkan Persatuan

Chandra Ekajaya menemui Imam Vihara Tekad Maitreya, Kendari, yaitu Pandita Sasanawati. Ia mengatakan bahwa ia tidak terlalu memikirkan soal peruntungan perputaran shio-shio yang ada. Tak ada yang berbeda dalam menyambut pergantian shio setiap tahunnya, semua dijalani dengan optimis. “Kami tidak terlalu menganut paham shio yang mengatakan bahwa tahun ini baik atau tahun ini tidak baik,” kata Pandita saat ditemui di Vihara Maitreya, Kemaraya, Kendari, Rabu (25/1).

 

Meskipun seperti itu, Pandita menjelaskan bahwa ayam merupakan lambang hewan yang memiliki ketelitian, kerajinan dan semangat tinggi. Artinya, tahun ini dalam menggapai tujuan harus dibutuhkan kerajinan, ketelitian dan semangat tinggi. “Kita sendiri memandang bahwa tahun ini harus dijalani dengan kerja keras maka kita bisa panen atau membuahkan hasil yang maksimal,” terang Pandita.

 

Chandra Ekajaya Pasang Lampion

Lampion Imlek

 

Kemudian mengenai lambang api sendiri itu memiliki makna kehangatan dan memberi penerangan. Namun, disisi lain juga api dapat memberikan makna ledakan. “Satu sisi api dapat memberikan kehangatan. Namun disisi lain ledakan bisa terjadi, itu artinya soal emosi masyarakat di tahun ini lebih tinggi dalam menghadapi sesuatu,” kata Pandita.

 

Disinggung keadaan bangsa, berdasar Shio Ayam Api sendiri Pandita menghimbau masyarakat untuk memandangnya secara positif. Secara umum pun Pandita tak bisa menjelaskan lebih rinci keadaan bangsa berdasarkan shio ayam api. “Memang berdasar pantauan media yang ada, keadaan saat ini sedang hangat. Namun itu kembali pada diri kita masing-masing untuk menciptakan sebuah keadaan.” katanya.

 

Chandra Ekajaya Olah Kerukunan

Kerukunan

 

Menurutnya, setiap shio yang berganti itu merupakan sebuah signal untuk kita dapat mempersiapkan diri. Jadi, setiap pergantian shio tak perlu dipandang negatif. “Shio itu hanya sebuah signal mengenai gambaran keadaan masa akan datang. Jadi, kita tidak perlu menyikapi secara berlebihan. Kita harus memiliki cara untuk meng-handle kejadian-kejadian yang dikabarkan akan terjadi,” kata Pandita.

 

Chandra Ekajaya juga mengatakan, ketika peruntungan dan nasib buruk yang sudah dikabarkan seharusnya manusia sudah siap untuk menghadapinya. “”Agama boleh berbeda tapi kita tetap satu, kita Indonesia. Bahasa dan budaya boleh berbeda tapi kita tetap satu sebagai masyarakat Indonesia. Sehingga shio apapun yang datang tidak gampang terombang-ambing dengan keadaan yang ada,” imbuhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *