Yohanes Chandra Ekajaya Trip To Seoul

Berpetualang ke Kota Seoul Bersama Yohanes Chandra Ekajaya

Yohanes Chandra Ekajaya Trip To Seoul

Bagi para pecinta drama korea, tentu saja berwisata untuk liburan ke Korea Selatan menjadi satu impian tersendiri. Secara tak sadar, film-film Korea yang menawarkan cerita drama apik yang ditampilkan dengan aktor serta aktris yang menawan membuat para penikmat film Kore memberikan pengaruh bagi para penontonnya. Tentu saja, demam K-POP yang digaungkan oleh industri musik Indonesia menjadi salah satu contoh keterpengaruhan musik Indonesia dengan popularitas K-Pop di mata dunia. Ngomong-ngomong soal Korea Selatan, saat ini Yohanes Chandra Ekajaya seorang reporter dari majalah remaja akan memberikan beberapa pengalaman singkatnya berkunjung ke negeri ginseng tersebut.

Tepat pada peralihan musim dingin menuju musim semi tahun ini, Yohanes Chandra Ekajaya berkunjung ke Korea Selatan untuk menikmati aneka destinasi wisata yang ada di negara tersebut. Lelaki berperawakan tinggi dengan style rambut bersisir menyamping tersebut merancang perjalanannya dari ibukota Korea Selatan yaitu Seoul hingga Pulau Jeju.

Korea Selatan menjadi tujuan utama bagi Yohanes Chandra Ekajaya, bukana karena produksi filmnya yang menarik. Namun, semuanya berkat cerita ekspansi bisnis negeri gingseng ini yang semakin hari semakin meningkat di tanah air. Tentu, bukan tersebab hanya karena larisnya kaset-kaset cd yang membuat Anda ingin berjoget, namun untuk pasar elektronik, otomotif, retail, hingga fashion mulai membumi di tanah air.

Perjalanan ke Seoul pun mulai ditempuh oleh Yohanes Chandra Ekajaya dalam waktu sembilan jam, dan setibanya disana suhu dingin pun mulai menyeruak. Merasakan hawa dingin yang sudah mulai masuk ke sumsum tulang, Yohanes Chandra Ekajaya yang sedari tadi hanya menggunakan kaos lengan panjang terpaksa harus menyelimuti tubuhnya dengan busana yang lebih tebal. Itupun, Yohanes Chandra Ekajaya harus menambahkan sepasang sarung tangan yang menyelimuti kedua jari dan telapak tangannya yang terhembus cuaca dingin. Ternyata suhu nol derajat celcius, adalah suhu yang kami hadapi saat itu. Tampak gigi dari Yohanes Chandra Ekajaya pun bergemeretak, meski jiwa selalu terasa hangat untuk menanti sebuah petualangan di negeri penghasil film-film drama romantis ini.

Locks of Love Yohanes Chandra Ekajaya

Esok harinya, Yohanes Chandra Ekajaya sudah merancang petualangan untk hari pertamanya di Seoul, di mana kunjungan pertamanya yaitu di Universitas SungKyunWan menjadi objek pertama yang disasar. Universitas yang memiliki usia lebih dari 600 tahun ini berada di wilayah Hyehwa, Korea Selatan, di mana Yohanes Chandra Ekajaya mulai memasuki universitas yang memiliki cerita sejarah yang cukup panjang. Sebagai bukti kepedulian masyarakat Korea Selatan terhadap nenek moyangnya, Universitas SungKyunKwan masih menjaga sebuah komplek ruang kelas yang masih asli sejak 600 tahun yang lalu. Arsitektur bercitra masa lalu tersebut, tampak jelas dan begitu mengagumkan meski disampingnya bangunan bercorak modern berdiri megah disampingnya. Namun, melihat situs dan bangunan modern tersebut seolah memberikan petuah bahwa masyarakat Korea boleh maju asalkan ia tidak tercerabut dari akar budayanya.

Yohanes Chandra Ekajaya Seoul Trip

Saking tak puasnya hanya menyusuri sekitaran kampus, Yohanes Chandra Ekajaya tampak terkesan atas disediakannya air minum gratis di hampir setiap sudut. Sebuah fasilitas yang sederhana tapi sangat bermanfaat. Kekagumannya pun tak hanya sampai disitu, dimana fasilitas air minum gratis tersebut merupakan wujud pembuktian Korea Selatan dengan masyarakat dan dunia luar bahwa negeri ginseng tersebut memiliki sistem perairan yang sangat baik. Itulah yang membuat keran-keran air yang sengaja disediakan oleh pemerintah Korea Selatan terpasang di hampir setiap jalanan. Selain itu, Yohanes Chandra Ekajaya juga terkesan dengan fasilitas koneksi internet nirkabel yang dapat ditemukan dimana-mana. Ya, sebuah notifikasi dari layar gawai Yohanes Chandra Ekajaya tertulis sebuah kalimat “Yes, wifi is available all around you”. Sungguh Yohanes Chandra Ekajaya pun merasa terkesan karena fasilitas yang memadai tersebut memudahkannya untuk berbagi foto di salah satu akun pribadi pada salah satu jejaring sosialnya.

Beranjak dari Hyehwa, Yohanes Chandra Ekajaya pun berkunjung sebuah destinasi belanja terbesar di Seoul yaitu Dongdaemun. Tempat belanja yang dibangun pada tahun 1905 ini merupakan sebuah pasar tradisional. Namun, karena semakin berkembangnya industri teksil di tahun 1970 membuat pasar ini bertransformasi hingga pada akhirnya dibukala distrik tempat menjual barang-barang di industri kecil dalam skala besar. Di pasar tersebut, para pelanggan tak hanya membeli aneka produk eceram namun para pelanggan juga dapat membeli secara grosir. Yohanes Chandra Ekajaya mengungkapkan bahwa sampai saat ini pasar Dongdaemun telah dikelilingi dengan 26 mall dan 50 ribu pedagang yang menawarkan beraneka ragam produk. Seperti pada pasar pada umumnya, bagi para pembeli juga dapat melakukan tawar menawar untuk mendapatkan harga yang tepat. Yohanes Chandra Ekajaya pun tak menyiakan kesempatan tersebut, dimana ia berhasil membeli coat, blazer, jam tangan, dan beberapa cinderamata. Setelah menghabiskan berjam-jam untuk belanja, Yohanes Chandra Ekajaya pun menyempatkan diri untuk menyantap kuliner khas Korea Selatan yaitu Jjampong. Kuliner satu ini menawarkan cita rasa seafood dan mie yang dipadu dengan bumbu rempah yang mengundang selera. Tidak puas menyantap kuliner ini, Yohanes Chandra Ekajaya pun mencoba pada kuliner lainnya yaitu Kimchi. Makanan yang dibuat dari fermentasi sayuran ini diracik dengan tangan seorang juru masak yang luar biasa dimana perpaduan bumbu rempah ini menghasilkan rasa asam dan pedas.

Pada hari berikutnya, setelah puas belanja dan merasakan sensasi kuliner khas Korea Selatan Yohanes Chandra Ekajaya berencana akan pergi ke salah satu destinasi wisata kebanggaan negeri tersebut. Saat itu, Yohanes Chandra Ekajaya pergi ke Istana Changdeokgung sebuah tempat yang memiliki nuansa bersejarah. Istana yang dibangun pada abad 15 ini telah ditetapkan sebagai warisan kekayaan dunia. Pada destinasi wisata tersebut, sebuah acara prosesi pergantian penjaga pintu gerbang dihelat sebanyak dua kali dalam sehari yaitu pada pagi dan sore hari. Pada saat acara tersebut dihelat, mereka mengenakan pakaian tradisional Korea yang berwarna hitam putih lengkap dengan sebilah pedang. Prosesi yang berlangsung dengan khidmat, seolah membawa para pelancong maupun pengunjung yang hadir dalam upacara tersebut pergi ke suasana zaman dahulu ketika istana tersebut masih dijadikan sebagai tempat berlindung para raja. Di Istana Changdeokgung, Yohanes Chandra Ekajaya juga tak ingin melewatkan momen terbaiknya dengan berfoto mengenakan kostum ala Dinasti Joseon.

Puas dimanjakan dengan upacara kebudayaan, Yohanes Chandra Ekajaya akhirnya menyempatkan diri untuk mampir ke Namsan Hanok Village, sebuah pemukiman bernuansa tradisional ini berada di Seoul. Para pengunjung akan disajikam dengan berbagai bangunan bercorak tradisional ala Korea Selatan. Disamping itu, berderet pohonan rindang menampakkan bunga indah berwarna-warni yang saat itu tengah bermekaran. Lokasinya yang menampilkan keteduhan ini, dilengkapi dengan banyaknya rumah tradisional Korea yang disebut Hanok. Hanok merupakan rumah tradisional khas Korea dengan tiang dan kerangka kayu serta dinding yang temboknya terbuar dari campuran tanah, rumput serta kertas tradisional yang disebut Hanji. Bangunan tradisional yang khas tersebut, merupakan sebuah hasil penelitian para leluhur dalam menciptakan sebuah bangunan yang harus disesuaikan dengan lingkungan, kondisi geografis, dan musim.

Setelah puas berkunjung di Namsan Hanok Village, Yohanes Chandra Ekajaya pun melanjutkan perjalanannya menuju sebuah istana bernama Istana Gyeongbokgung. Situs bersejarah yang merupakan peninggalan dari Dinasti Joseon ini mengajak para pengunjung untuk memasuki suasana dan nuansa Korea pada zaman dahulu. Memasuki istana tersebut, para pengunjung dihadapkan langsung dengan halaman batu yang cukup luas yang membawa mereka masuk pada istana pertama.

Berjuta kekagumana yang luar biasa pun tampak memancar dari wajah Yohanes Chandra Ekajaya ketika tengah memandangi indahnya corak Istana Gyeongbokgung. Istana Gyeongbokgung merupakan sebuah komplek istana yang memiliki sekitar 330 buah bangunan yang apabila di total memiliki sekitar 5.792 kamar. Istana Gyeongbokgung juga merupakan simbol keagungan dan kebangaan masyarakat Korea, dimana terdapat bangunan utama dari istana yang diberi nama Geunjeongjoen yang berada di tengah komplek istana, dimana tempat tersebut digunakan oleh raja untuk menerima tamu, upacara penobatan dan mengadakan berbagai macam pertemuan. Pada komplek istana terdapat sebuah informasi bahwa ruangan tahta raja dan paviliun Gyeonghoeru di Gyeongbokgung tercatat sebagai aset nasional Korea Selatan yang dilengkapi dengan kolam bunga teratai dengan bertiangkan sekitar 48 buah tonggak granit.

Yohanes Chandra Ekajaya sulit menggambarkan perasaan bahagianya, dimana bangunan Istana Gyeongbokgung yang megah dan bernilai budaya tinggi ini menjadi penanda kekuatan masyarakat Korea Selatan. Namun, meski di kota tersebut telah banyak dibangun gedung-gedung pencakar langit yang tinggi dan modern, kota Seoul ditata dengan sangat indah dan asri. Hal tersebut dibuktikan bahwa penataan ruang kota di Seoul menempatkan berbagai cagar budaya sebagai tempat tujuan yang istimewa.

Setelah mengunjungi dan menikmati indahnya cagar-cagar budaya kota Seoul, Yohanes Chandra Ekajaya pergi mengunjungi sebuah tempat yang menjadi salah satu ikon kota Seoul yaitu Namsan Seoul Tower. Menara yang berada di gunung Namsan setinggi 236 meter tersebut menawarkan sensasi tersendiri ketika Anda berkunjung ke destinasi wisata satu ini. Salah satu tawaran dari destinasi wisata tersebut yaitu memberikan kepuasan bagi para wisatawan dengan menyuguhkan kemolekan kota Seoul yang eksotik. Selain itu, para wisatawan juga dapat menemukan kuil, istana, hingga pagoda umat Buddha di berbagai sudut kota yang berada di antara gedung-gedung modern yang menjulang tinggi. Bagi Yohanes Chandra Ekajaya, menjelajahi kota Seoul merupakan pengalaman yang tak dapat tergantikan, dimana lanskap kota Seoul yang romantis membuat para wisatawan betah untuk tinggal lebih lama di kota ini. Ya, itulah sedikit cerita singkat dari Yohanes Chandra Ekajaya di Seoul, Korea Selatan. Terus ikuti cerita perjalanan Yohanes Chandra Ekajaya di kota-kota lainnya. Selamat berpetualang!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *